”Enak gimana maksudnya to mas?”
”Lha enggak enak gimana ta yu… pagi pagi sudah memerah susunya sapi….terus malemnya memerah susunya yang punya sapi….kan enak to…siang malem mainin susu”
”Alaaaah… .mas Ardi ini bisa saja…” yu Darmi tertawa terpingkal-pingkal mendengar gurauanku sambil tangannya mencubit perutku. Bokeb Setelah selesai dari balai desa, kami segera meluncur ke kantor kecamatan untuk meminta legalisasi. Kugosok punggung yu Darmi dengan sabun hingga licin karena busa.Tanganku yang penuh busa sabun terus bergerilya menyusuri garis punggungnya turun ke arah pantatnya. Ia selalu datang di pasar tempat aku berdagang tepat jam 05.45 dan selalu diantar oleh suaminya, kang Sarjo dengan mengendarai sepeda motor tuanya.Aku kenal dengan yu Darmi dan suaminya karena kebetulan suami yu Darmi berasal dari satu desa yang sama denganku yang kurang lebih sekitar 20 Km dari pasar tempatku berdagang.




















