Lalu seteguk air putih. Aku menarik kursi, dan membalikanya sehingga menghadap kearah kak Dewi. Bokep Cina “Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata kak Dewi sambil meletakan piring yang dipegangnya. Aku termenung beberapa saat. Tapi lumayan enak. “Maafin Tedy ya kak !”,
“Iya anak nakal !”, katanya. Aku merintih dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Nafasku memburu. Tapi sudahlah. Pokonya aman deh. “Hallo…!”, kataku
“Ini tedy yah ?, kak Dewi ada ?”, suara itu terdengar lembut. “Ini Sinta…kak Dewi-nya ada ?”,
“Ada…sebentar ya kak !”, kataku. Benar-benar terdiam. Dan makin lama aku makin berani, hingga aku melakukan self service, di kamar kak Dewi, ketika tidak ada kak Dewi tentunya. “Pelan…pelan…”, ia mendesis,
“Enak kak?’, akhirnya kulontarkan pertanyaan itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak kekanan dan kiri.




















