Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Ah sial. Bokep Mama Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Alamak.., jauhnya. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Keberuntungankah? Ia menyenggol kepala juniorku. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Makin lama makin jelas. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Tunggu apa lagi. Tetapi berlari. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Hitam. Sekali. Sial. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat.




















