Ketika ujung gagang telephone telah diangkat ke telinganya terdengar suara lelaki yang sudah sangat diakrabinya.“Halo Nia, ini Mas..”, aku menyapanya.“Halo Mas, ini lagi di mana..”, ujar Nia dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.“Lagi di rumah dong.., Nia sudah mau bobo’ yaa..?”, tanyaku lagi.“Ahh.. Vidio Bokep Tiga kali. Gesekan nilon tipis pakaian tidurnya tiba-tiba seperti mewakili remasan itu. Kamar tidur sengaja ia gelapkan, karena ia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu ia memang tidak akan bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang.Ah, tiba-tiba darah Tania berdesir karena rasanya ia masih bisa mencium bau wangi tubuhku. Tania memerlukan kedua tangannya untuk mendaki puncak gemilang birahinya. Aku semakin tidak tahan menyaksikan pemandangan yang sangat sensual itu. Mas, ngantuk dan capek nih”, begitu katanya.“Hmm.., saya juga mau bobok, sayangg..”, aku menjawab seiring dengan datangnya rasa kantukku.Sambil tersenyum aku berkata dalam hati,“Pantas saja kamu kecapekan, habis lebih dari 6 kali sih..”.Kami sejenak terdiam ketika si manajer itu mengakhiri ceritanya.




















