Kadang kami hanya mengobrol saja. Ketika pulang, kembali kuambil uangku, namun ia tetap menolak dan berkata.“Untuk ongkos pulang kamu saja ke Bogor!”Setelah itu kami sering bertemu. Bokep China Melihatku kelihatan ragu dia bertanya, “Mau istirahat lagi?”
“Boleh deh,” kataku mengiakannya.Dia tidak jadi pulang dan kembali kami berkencan di hotel yang sama. Dia menyatakan senang kalau ngobrol denganku.“Ada yang mau mendengarkan dan mengerti sisi hitam dari jalan hidupku,” katanya.Aku sendiri mengatakan, kalau ada kesempatan untuk berhenti, maka berhentilah dari pekerjaannya dan membuka usaha atau pekerjaan yang lain.Suatu ketika aku mencarinya di hotel. Kucium leher dan telinga kirinya, tangan kirinya terangkat dan kemudian menarik rambutku. Sekilas kulihat tanggal lahirnya, berarti ia sekarang dua puluh delapan, sementara aku waktu itu masih dua puluh tiga. “Iya,” jawabku singkat. Rasanya dengan uang yang kukeluarkan aku bisa mendapatkan lebih dari yang kuharapkan. Dan memang daerah ini dikenal sebagai daerah merah. Ohh.. Karena kami kamar yang kami sewa menggunakan cara jam-jaman dan kulihat waktu telah habis, maka kamipun keluar




















