Mungkin saban hari saya menangis, sedih mengingat Simbok, juga kesepian. Bokep Mom Apa sudah waktunya?Saya nggak bisa kendalikan badan saya. Sanggul yang belum saya copot (apa seharusnya saya copot juga?) ngganjal belakang kepala saya. Lumayan juga bisa ndapat perawan siang-siang begini… Kalau kamu mau, Denok, cari uang itu nggak susah…”Beliau jatuhkan enam lembar lima puluh ribuan ke dekat muka saya. Badannya besar dan perutnya gendut.Sekali dua kali saya dan Simbok pernah menari di depan tokonya, dan pegawai-pegawainya memberi kami uang tapi beliau tidak. Perempuan yang ada di foto bersama Juragan itu benar istrinya, tapi sudah meninggal. Saya njawab dengan lenguhan dan ocehan nggak jelas, ah-ah uh-uh. Sudah malam, dan saya baru saja menari buat beberapa orang supir truk pengangkut sayur yang habis bongkar muatan. Sekali-sekali, kalau Juragan minta, saya akan kenakan lagi kemben merah dan batik, sanggul dan kembang, bedak tebal dan gincu merah, untuk kemudian melayani Juragan di ranjang.




















