Seringnya sampai jam 19 atau 20. Bokep Hot Engga.., ah. Kantorku di lantai 3, di lantai 1 gedung ini terdapat sebuah toko milik koperasi pegawai BUMN ini yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, mirip swalayan kecil. “Uuhh” Sari melepaskan kulumannya, “Crot..”, kedua dan seterusnya ke celana dan perutku. Akhirnya aku membayar belanjaan Sari. Sari cepat-cepat mengancingkan kemejanya, kutangnya belum sempat dibereskan. “Sampai di mana nih?”, tanyanya terengah. Kadang ditelusuri dari ujung ke pangkal, kadang berhenti agak lama di “leher”. “Udah malem.., Mas.., Lain kali aja ya?”, Aku mulai jengkel. Sengaja kupilih tempat yang gelap. Sampai di perempatan aku harus ambil keputusan mau ke mana? “Gila..! “Ke mana..”, aku balik bertanya. Sebentar lagi.., hampir..! Tawaran yang naif, sebab jawabannya begitu jelas. “Ini.., engga bisa ilang”, kataku sambil menunjuk noda itu. Ah, itu tempat wisata, susah untuk “begituan”. Kulepas tanganku dari “susu segar” Sari, aku belok kiri.




















