Itu artinya ia tidak mau diganggu. Makin lama makin jelas. Bokep Montok Ah sial. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Ciut. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Masih menutupi diri dengan tabloid. Aku pun segan memulai cerita. Keras sekali.“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”Ia berdiri. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih.




















