Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. “Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya. Bokep Live Sudahlah. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Sudahlah. Aku mengurungkan niatku. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Wajahku mulai panas. Ia tersenyum ramah. Sial. Wajahku merah padam. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Aku hanya main dengan tangan. Bergantian Wien kini telentang.“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.Kujilati payudaranya, ia melenguh. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Ke mana ia? Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit.




















