Dan sikapku juga terus seperti anak balita, walau usiaku sudah cukup dewasa.Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya karena Mbak Indri menikah. Bokep Tobrut “Aku…, Apa yang harus kulakukan?” tanyaku tidak mengerti. sehingga tidak ada selembar benangpun yang masih melekat di sana. Dan aku selalu memanggilnya Tante Maya.“Bagus sekali anjingnya..”, piji Tante Maya. “Ayo dong, jangan diam saja…”, bisik Linda disela-sela tarikan napasnya yang memburu. “Ke rumah…?”, tanyaku memastikan. Aku coba untuk menuruti keinginannya tanpa ada perasaan apa-apa.“Ke kamarku, yuk…”, bisik Linda mengajak. Seperti ada denyutan yang hangat.Tapi aku tidak tahu dan sama sekali tidak merasakan apa-apa meskipun Linda menekan dadanya cukup kuat ke dadaku. Tapi tetap saja aku tidak merasakan sesuatu.Dan tiba-tiba saja Linda mencium bibirku. Karena terus-menerus memuji dan membuatku bangga, dengan hati dipenuhi kebanggaan aku meminjaminya. Linda ikut berbaring di sampingku.




















