Aku tak berani
bertanya kepadanya. Bokep Colmek Tanpa apa-apa. Dia baik dan suka membantuku. Akupun keluar kamar, menyongsong dirinya. “Benar. Aku salah tingkah. Ceritanya benar-benar vulgar. “Ini? Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai. Setelah
aku mengganti celana, aku meraih novel itu. Jadi aku bisa bebas menyentuh dada dan kewanitaannya. Tapi Kak
Tina tak pernah mengajakku membaca bersama lagi. Beberapa buah novel ada di situ. Mataku kupejamkan, berpura-pura seperti orang tidur. Saat itulah aku pertama kali
melihat vagina wanita dewasa. Kak Tina percaya. Aku tak punya keberanian untuk
membongkar paksa. Kumasukkan kembali novel-novel
itu. Tanpa apa-apa. Dapat kulihat
bulu-bulu yang tumbuh lebat di sana. Sapto! Masih boleh kok. Aku menahan nafas. Yang
kulihat di sana sungguh luar biasa, dan tak akan pernah kulupakan. Ingat
kalau aku ingin pipis, maka aku dengan perlahan mengangkat tangan Kak
Tina dan menarik tanganku.




















