Aku duduk di belakang, tempat favorit. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Bokep Mama Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. “Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Mobil melaju. Ia tidak bercerita apa-apa. Dari perut turun ke paha. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Makin lama makin jelas. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Ia malah melengos. Kali ini dengan telapak tangan. Sial. Lalu dikocok-kocok sebentar. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Dadaku berguncang. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk Juniorku.Darahku mendesir.




















