Aku butuh penjelasan.”
“Sayang, emosimu membuyarkan penjelasanku waktu itu.”
“Maaf,” desahku, bahkan kini aku pun tak mampu memandangnya. Bokep Brazzers Terkadang aku menyesal menyerahkan Chie kepadanya. Sibuk mendoktrin gadis-gadis tentang kenikmatan free-sex. Pertanyaan yang sangat sukat untuk kujawab. “Sentuh aku, Ray!” desahnya di dadaku. “Ray..” Chie mendesah lirih saat bibirnya menyentuh bibirku.Kukecup bibirnya dengan lembut. Ucapan itu sangat pahit dan mengena. Kulepaskan kerah bajunya. Waktu itu Jay juga sedang mengejar Chie. Air mata mulai membasahi dadaku yang terbuka. Chie juga bercerita padanya (aku tak tahu bagaimana perasaan Jay saat itu) bahwa ia ingin menyerahkan keperawanannya padaku, sebelum menjadi milik orang yang sama sekali asing baginya. “Ray…”
“Ya?”
“Kukira aku sudah tidak perawan lagi…”Surabaya, Keesokan HarinyaKucengkeram kerah baju Jay dalam genggamanku, dan mengangkat kepalanya mendekatiku,
“Maksudmu apa?” desisku berang. “Chie, jangan!”
Chie mendesah. “Seandainya saja pikiran kita sudah lebih terbuka, mungkin Indonesia sudah kehabisan perawan.




















