Dari remang-remang penerangan dari ruang sebelah sekarang nampaklah Diana yg telanjang bulat dan menakjubkan. Aku mulai mengarahkan prop USG ke arah Jantungnya dgn menggesernya dari daerah perut. Bokeb Kita bertiga takjub memandangi alat yg sudah hidup tersebut, nampaknya tak ada trouble sedikitpun, “Ayo kita coba, kita hanya punya waktu 7 jam sebelum menyerahkan barang ini” suara aku memecah keheningan
“Aku, Pak !” Pak Sebastian langsung menyahut, selain dia sudah hapal alat-alat medis kedokteran,
dia juga tahu kecanggihan alat ini dan pemeriksaan yg berharga 500.000 untuk setiap kali total USG
seluruh badan. Aku tak berani memeriksanya lebih lanjut. “Ayo kita pulang” aku mengingatkan, jam sudah menunjukkan jam 2 malam. “Enak Pak.terus.terus” sambil tetap terus menutup mata. Pak Sabastian, 10 tahun lebih tua dari aku yg merakit alat ini sudah nampak kelelahan dan ikut tegang sewaktu aku mulai menancapkan kabel listrik. Aku jilat-jilat dan ciumi perutnya, tangan kanan aku sekarang sudah berpindah ke arah selangkangannya yg masih terbalut rapi dgn rok.




















